UJI ASUMSI KLASIK
Supawi Pawenang, 2017, Modul Ekonometrika, Fakultas Ekonomi, UNIBA Surakarta
BAB
V
UJI
ASUMSI KLASIK
1.
Rangkuman
Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistic yang harus
dipenuhi pada analisis regresi linier berganda yang berbasis Ordinary Least
Square (OLS). Jadi analisis regresi yang tidak berdasarkan OLS tidak memerlukan
persyaratan asumsi klasik. Jika data yang diregresi tidak memenuhi asumsi yang
telah disebutkan, maka regresi yang diterapkan akan menghasilkan estimasi yang
bias. Jika hasil regresi telah memenuhi asumsi regresi maka nilai estimasi yang
diperoleh bersifat BLUE yaitu Best, Linear, Unbiased, Estimator.
Best dimaksudkan sebagai yang terbaik dari analisis regresi
linier digunakan untuk menggambarkan sebaran data dalam bentuk garis regresi,
garis regresi merupakan cara memahami pola hubungan antara dua seri atau lebih.
Hasil regresi dikatakan best apabila garis regresi yang dihasilkan guna
melakukan estimasi atau peramalan dari sebaran data menghasilkan error yang
kecil. Linear adalah model yang digunakan dalam analisis regresi telah sesuai
dengan kaidah model OLS dimana variable penduganya hanya berpangkat satu.
Unbiased atau tidak bias, dikatakan unbiased jika nilai harapajn dari estimator
b sama dengan nilai yang benar dari b, jika rata-rata b tidak sama dengan b
maika selisihnya itu disebut biasnya. Estimator yang efisien dapat ditemukan
apabila ketiga kondisi diatas telah tercapai karena sifat estimator yang
efisien merupakan hasil konklusi dari ketiga hal sebelumnya.
Uji Autokorelasi adalah keadaan dimana variable gangguan
pada periode tertentu berkorelasi dengan variable gangguan pada periode lain.
Sifat autokorelasi muncul bila terdapat korelasi antara data yang diteliti,
baik itu data jenis runtut waktu (time series) ataupun data kerat silang (cross
section). Penyebab autokorelasi yaitu 1) kesalahan pembentukan model. 2) tidak
memasukan variable yang penting. 3) manipulasi data. 4) menggunakan data yang
tidak empiris. Yang mengakibatkan nilai t hitung akan menjadi bias, karena
nilai t hitung diperoleh dari hasil bagi Sb terhadap b (t = b/sb) , berhubung
nilai Sb bias maka nilai t juga akan bias atau bersifat tidak pasti
(misleading)
Uji Normalitas adalah untuk menguji apakah variable
pengganggu (e) memiliki distribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas data
dapat dilakukan sebelum ataupun setelah tahapan analisis regresi. Pengujian
normalitas data ini berdampak pada nilai t dan f karena pengujian terhadap
keduanya diturunkan dari asumsi bahwa data Y atau e berdistribusi normal. Dalam
pengujian normalitas mempunyai dua kemungkinan yaitu data berdistribusi normal
atau tidak normal. Apabila data normal maka tidak ada masalah karena uji t dan
uji F dapat dilakukan , apabila data tidak normal maka diperlukan upaya
mengatasi seperti memotong data yang out liers, memperbesar sampel atau
melakukan transformasi data.
Uji heteroskedastisitas adaalah varaiance residual harus
memiliki variable yang konstanta atau dengan kata lain, rentangan e kurang
lebih sama. Karena jika variancenya tidak sama, model akan menghadapi masalah
heteroskedastisitas, masalah tersebut muncul apabila kesalahan atau residual
dari model yang diamati tidak memiliki varias atau konstan dari satu observasi
ke observasi lainnya. Masalah tersebut sering muncul dalam data cross section.
Konsekuensi yang didapatkan apa bila masalah tersebut muncul akan mengakibatkan
nilaiu Sb menjadi bias, akan berdampak pada nilai t dan nilai F yang menjadi
tidak dapat ditentukan, Karen nilai t dihasilkan dari hasil bagi b dengan Sb.
Untuk pendeteksian heteroskedastisitas dengan melakukan berbagai cara seperti
uji grafik, uji park, uji glejser, uji spearman’s rank correlation dan uji
whyte menggunakan lagrange multiplier.
Multikolinearitas adalah suatu keadaan dimana terjadi
korelasi linear yang “perfect” atau eksak diantara variabole penjelas yang
dimasukan kedalam model. Tingkat kolinear dikatakan lemah apabila masing masin
gvariable penjelas hanya mempunyai sedikit sifat – sifat yang sama. Apabila
antar variable penjelas memiliki banyak sifat – sifat yang sama dan serupa
sehingga hampir tidak dapat lagi dibedakan tingkat pengaruhnya terhadap Y, maka
tingkat kolibnearnya dapat dikatakan serius atau perfect atau sempurna.
Sedamgkan tidak berkolinear jika antara variable penjelas tidak mempunyai sama
sekali kesamaan. Jika terjadi masalah makan multikolinearitas akan menyebabkan
nilai koefisien regresi (b) masing-masing variable bebas dan nilai standart
errornya (Sb) cenderung bias dalam arti tidak dapat ditentukan kepastian
nilainya.hal tersebut dapat dideteksi dengan cara menganalisis matrix korelasi
dengan pearson correlation atau dengan spearman’s rho correlation, melakukan
regresi partial dengan teknik auxiliary regression atau dapat pula
dilakukan dengan mengamati nilai variance inflation factor (VIF).
2.
Kesimpulan
Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistic yang harus
dipenuhi pada analisis regresi linier berganda yang berbasis Ordinary Least
Square (OLS). Jadi analisis regresi yang tidak berdasarkan OLS tidak memerlukan
persyaratan asumsi klasik. Jika dat yang diregresi tidak memenuhi asumsi yang
telah disebutkan, maka regresi yang diterapkan akan menghasilkan estimasi yang
bias. Jika hasil regresi telah memenuhi asumsi regresi maka nilai estimasi yang
diperoleh bersifat BLUE yaitu Best, Linear, Unbiased, Estimator.
3. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
a. Coba jelaskan apa yang dimaksud dengan asumsi klasik!
b. Sebutkan apa saja asumsi-asumsi yang ditetapkan!
c. Coba jelaskan mengapa tidak semua asumsi perlu lakukan
pengujian!
d. Jelaskan apa yang
dimaksud dengan autokorelasi!
e. Jelaskan kenapa autokorelasi timbul!
f. Bagaimana
cara mendeteksi masalah autokorelasi?
g. Apa konsekuensi dari adanya masalah autokorelasi dalam
model?
h. Jelaskan apa yang
dimaksud dengan heteroskedastisitas!
i. Jelaskan kenapa heteroskedastisitas timbul!
j. Bagaimana
cara mendeteksi masalah heteroskedastisitas?
k. Apa konsekuensi dari adanya masalah heteroskedastisitas
dalam model?
l. Jelaskan apa yang
dimaksud dengan multikolinearitas!
m. Jelaskan kenapa multikolinearitas timbul!
n. Bagaimana
cara mendeteksi masalah multikolinearitas?
o. Apa konsekuensi dari adanya masalah multikolinearitas
dalam model?
p. Jelaskan apa yang
dimaksud dengan normalitas!
q. Jelaskan kenapa normalitas timbul!
r. Bagaimana
cara mendeteksi masalah normalitas?
s. Apa konsekuensi dari adanya masalah normalitas dalam
model?
t. Bagaimana cara menangani jika data ternyata tidak normal?
Jawaban
a.
Asumsi Klasik adalah persyaratan
statistic yang harus dipenuhi pada analisis regresi linier berganda yang
berbasis OLS
b. Asumsi asumsi yang ditetapkan :
·
linear
regression model
·
nilai X
·
variable
pengganggu e memiliki rata-rata nilai 0
·
homoskedastisitas
·
tidak ada
otokorelasi antara variable e pada setiap nilai x dan j
·
variable x dan
disturbance e tidak berkorelasi
·
jumlah
observasi / besar sampel (n0 harus lebih besar dari jumlah parameter yang
diestimasi
·
variable x
harus memiliki variabilirtas
·
model regresi
secara benar telah terspesifiikasi
·
tidak ada
multikolinearitas antara variable penjelas
c.
Karena penyimpangan masing masing
asumsi tidak mempunyai dampak yang sama terhadap regresi.
d. Autokorelasi untuk melihat terjadinya korelasi antara suatu
periode t dengan sebelumnya (t-1). Secara sederhana bahwa analisis regresi
adalah untuk melihat pengaruh antar variable bebas terhadap variable terikat,
jadi tidak boleh ada korelasi antar observasi dengan data observasi sebelumnya.
e.
Autokoerlasi timbul karena terdapat
gangguan autokorelasi pada model regresi yang diteliti baik itu data jenis
waktu ataupun data karet silang.
f.
Mendeteksi autokorelasi dengan danya
ketergantunga atau kesalahan pengganggu yan gsecara otomatis mempengaruhi data
berikutnya.
g. Konsekuensi adanya masalah autokorelasi dalam model yaitu
nilai t hitung akan menjadi bias karena niolai t diperoleh dari hasil bagi Sb
terhadap b. berhubung nilai Sb bias maka nilai t juga akan bias atau bersifat
tidak pasti.
h. Heteroskedastistas untuk melihaat apakah terdapat
ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.
i.
Heteroskedastistas muncul karena
adanya kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varian
yang konstan dari satu observasi ke observasi lain.
j.
Mendeteksi masalah
Heteroskedastistas dari data cross section karena masalah tersebut lebih sering
muncul di cross section daripada time series.
k. Konsekuensi adanya masalah residua tau debiasi daari garis
yang paling tepat muncul serta random sesuai dengan besarnya variable-variable
independen.
l.
Mutikolinearitas yaitu suatu keadaan
dimana terjadi korelasi linear yang “perfect” atau eksak diantara variable
penjelas yang dimasukan kedalam model.
m. Mutikolinearitas timbul karena tingkat kolinear dikatakan
lemah apabila masing-masing variabole penjelas hanya mempunyai sedikit
sifat-sifat yang sama.
n. Mendeteksi masaalah Mutikolinearitas dengan menganalisis
matrix korelasi dengan pearson correlation atau dengan supermans tho
correation, melakukan regresi partial dengan teknik auxiliary regression atau
dapat pula dilakukan dengan mengamati nilai variance inflation factor (VIF)
o. Konsekuensi adanya masaalah Mutikolinearitas nilai koefisien
regresi (b) masing – masing variable bebas dan nilai standart errornya (sb)
cenderung bias, dalam arti tidak dapat ditentukan nilainya, sihingga akan
berpengaruh pula terhadap nilai t.
p. Normalitas untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi
normal atau tidak , model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yan
terdistribusi normal.
q. Normalitas timbul karena pengujian normalitas data dapat
dilakukan sebelum ataupun setelah tahapan analisis regresi.
r.
Mendeteksi masalah normalitas dengan
menggunakan metode numberik yang membandingkan nilai statistic yaitu antara
nilai median dengan nilai mean, menggunakan formula jarque bera dan mengamati
sebaran data.
s.
Konsekuensi ddari adanya masalah
normalitas adalah pengujian normalitas ini berdamoak pada nilai t dan F karena
pengujian terthadap keduangan diturunkan dari asumsi bahwa data Y atau e
berdistribusi normal.
t.
Cara menangani jika data tersebut
ternyata tidak normal diperlukan upaya untuk mengatasi seperti memotong data
out liers, memperbesar sampel atau melakukan transformasi data.
Mengatasi Data Tidak Normal Dengan Central Limit Theorem (CLT)
BalasHapusApabila Data Tidak Normal Bisa Memakai Central Limit Theorem (CLT)
Sebagai Pendukung Kami Berikan Literatur Berupa Penelitian-Penelitian
Sebelumnya Sebanyak 20 Buah Penelitian
Bagi Yang Membutuhkan Bisa Klik Dibawah Ini Untuk Unduh Literatur Tersebut
https://s.id/UjiCLT